Romusha, Neraka Jahanam Ala Soekarno! |
Diposkan oleh Teguh | di 02.34 |
Pada 1942, Jepang menguasai Indonesia. Mereka berhasil
mengambil alih kendali dari tangan Belanda. Begitu pula di beberapa negara asia
tenggara lainnya, Jepang juga berhasil menguasai dan mengendalikannya. Dalam
mengendalikan dan menguasai daerah jajahannya Jepang selalu merekrut kaum
pribumi untuk menjadi kaki tangan mereka untuk mengeksploitasi sumber daya yang
ada demi kebutuhan perang mereka atau biasa disebut sebagai Kolaborator. Di
Indonesia, Sukarno berhasil mendekati pemerintahan kolonial Jepang dan
menjadikannya sebagai Kolaborator di Indonesia
Demi mempertahankan daerah-daerah kekuasaannya tersebut,
Jepang merencanakan pembangunan rel kereta api guna mempercepat pengangkutan
logistik dan tentara. Jepang juga merencanakan untuk menambang sumber daya alam
Indonesia (emas, batu bara dan lainnya). Untuk mengerjakan semuanya, Jepang
membutuhkan banyak pekerja paksa atau dalam bahasa Jepang disebut romusha:
pahlawan kerja. Jepang juga membutuhkan perempuan-perempuan sebagai pelampiasan
nafsu birahi para tentaranya yang dikirim ke medan perang. Para Romusha dan
Jugun Ianfu ini dihimpun dari setiap negara yang mereka kuasai tak terkecuali
Indonesia.
Di Indonesia, romusha dan jugun ianfu dihimpun langsung oleh
Presiden Soekarno sebagai Kolaboratornya. Konsekuensi langsung dari kebijakan
politik terkait kesepakatan dengan Kaisar Jepang, Tenno Heika, untuk
mempercepat dan mendukung proses kemerdekaan Indonesia.
Para pemuda dan orang dewasa -Belanda dan pribumi- dibujuk,
ditangkap paksa dan diangkut dengan truk. Mereka kemudian dikirim ke pelbagai
lokasi kerja, di Indonesia maupun di negara lain. Jumlah yang terhimpun sekira
4-10 juta orang. Banyak dari mereka yang mati mengenaskan: kelaparan,
kedinginan, sakit, disiksa, dibunuh dan sebagian menjadi santapan binatang
buas.
Terkait romusha, presiden Soekarno melontarkan beberapa
pernyataan:
“Sesungguhnya akulah yang mengirim mereka untuk kerja paksa.
Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya,
akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku
bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk
menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha…”
“…Aku melakukan perjalanan ke Banten untuk menyaksikan
tulang-tulang kerangka hidup yang menimbulkan belas kasihan, membudak di garis
belakang, jauh di dalam tambang batu bara dan emas. Mengerikan. Ini membuat
hati di dalam seperti diremuk-remuk.”
Dalam buku Harry A Poeze, penulis paling otoritatif tentang
Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, terbitan Grafiti Pers. Bung Karno,
dalam kampanye untuk menarik rakyat menjadi romusha yang sering diartikan sebagai
kerja paksa khas Jepang, sempat mengunjungi Bayah, Banten Selatan, tempat
romusha dipekerjakan untuk membangun jaringan rel kereta api Saketi-Bayah,
sepanjang 150-an km. Bung Karno datang bersama Bung Hatta dan para anggota Jawa
Hokokai. Kedatangan itu bagian dari kampanye Bung Karno untuk bekerja sama
dengan Pemerintah Pendudukan Jepang, yang ia yakini akan memberikan kemerdekaan
kepada Indonesia. Sebelumnya, pada 3 September 1944, Bung Karno telah
memberangkatkan 500-an romusha ke Burma.
Para romusha itu berangkat dengan bangga, diiringi pidato
Soekarno," Tujuan usaha ini adalah untuk menunjukkan kepada Jepang bahwa
penduduk Jawa telah siap sehidup semati dengan Dai Nippon. Kita berjanji tidak
akan bercukur selama pengabdian sebagai romusha, sebagai tanda bukti kepada
negara," kata Bung Karno, seperti tertuang dalam buku yang ditulis Aiko
Kurasawa.
Bung Karno sendiri datang ke Bayah sebagai romusha. Pada
lengannya tertulis pita besar bernomor 970. Romusha bernama Soekarno itu
ditulis koran-koran zaman itu tinggal di pondokan sederhana romusha, makan
makanan mereka. Koran juga memuat foto saat Bung Karno mengangkat karung pasir
dalam pekerjaan sehari-hari romusha.
Pada saat acara penyambutan kedatangan Bung Karno dkk
itulah, terjadi perdebatan antara Bung Karno dengan IlyasTan Malaka. Pidato
Soekarno bahwa Indonesia bersama Jepang akan mengalahkan Sekutu dan setelah itu
Jepang memberikan kemerdekaan buat Indonesia, dibantah Tan Malaka. Itulah
perbedaan sikap kedua pemimpin, pejuang yang sama-sama mencita-citakan
kemerdekaan Indonesia itu
“Ada dua jalan untuk bekerja. Pertama dengan tindakan
revolusioner, kita belum siap. Kedua adalah bekerja sama dengan Jepang sambil
mengonsolidasikan kekuatan dan menantikan sampai tiba saatnya ia jatuh. Saya
mengikuti jalan kedua.”
“Dalam setiap perang ada korban. Tugas dari seorang panglima
adalah memenangkan perang, sekalipun akan mengalami beberapa kekalahan dalam
pertempuran di jalan. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa
demimenyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan. Kita berada dalam suatu
perjuangan untuk hidup…”
Logas adalah kawasan di tengah hutan belantara antara
Sumatera Barat dan Riau. Pada 1943-1945, Jepang membangun rel kereta api di
sini, menghubungkan Sumatera Barat dan Riau. Puluhan romusha dikerahkan untuk
mengerjakannya. Logas menjadi kawasan pekuburan dan saksi bisu tragedi yang
mengerikan.
Romusha terdiri dari
pemuda-pemuda pribumi yang ditangkapi secara paksa sepulang sekolah; bahkan
yang sedang nongkrong atau jalan-jalan. Mereka diangkut dengan truk dan dibawa
ke Logas. Beberapa tawanan Belanda juga dijadikan romusha.
Para romusha hidup di tengah hutan belantara. Dikomandoi
Letnan Doi Isamu yang kejam, mereka bekerja keras siang-malam, makan seadanya
dan tidur berselimutkan dingin dan sengatan nyamuk malaria. Kalau mereka lari,
harimau sumatera dan binatang buas lainnya siap menerkam di hutan.
Tak ada catatan pasti tentang jumlah kematian, tapi yang
jelas: belasanromusha mati tiap harinya selama dua tahun.
Bagaimana dengan romusha Indonesia yang dikirim ke negara
lain? Di negara Burma, sebagaimana diakui dan digambarkan presiden Soekarno:
hampir 99% mati.[]
Sumber: “Bung Karno dan Lembar Hitam Romusha” oleh Roso
Daras.
“Neraka Rimba Logas” oleh Marthias Dusky Pandoe.


TRAGIS ...
BalasHapusMenyedihkan
BalasHapusBetapa menderita nya kita sebelum kemerdekaan,sudah sepantasnya kita isi kemerdekaan dg prestasi biar di segani dunia
BalasHapuscara mengisi kemerdekaan adalah mari kita menuntaskan pembentukan negara kita sesuai UUD 1945 PROKLAMASI, yaitu negara NASIONAL yang berbentuk REPUBLIK KESATUAN.
HapusVideo Soekarno jadi mandor romusha : http://www.indonesianfilmcenter.com/embed/5957-L4OL3
BalasHapusMenit 05:50
bagaimana pun Bung KArno adalah PROKLAMATOR KEMERDEKAAN INDONESIA dan KONSEPTOR NEGARA INDONESIA sesuai tuntutan zaman dan kejadian indonesia sebagai bangsa yg mau gak mau harus menjadi kesatuan karena tuntutan keadaan, zaman dan Tuhan yg mengajarkan manusia utk berdamai bersatu bersaudara di dlm kebaikan dan cinta kasih. OIeh sebab itu romusha tidak sia-sia pengabdian mereka. mereka mendapatkan pahala menopang kehidupan seluruh bangsa indonesia sampai akhir zaman...
BalasHapusbagaimana pun Bung KArno adalah PROKLAMATOR KEMERDEKAAN INDONESIA dan KONSEPTOR NEGARA INDONESIA sesuai tuntutan zaman dan kejadian indonesia sebagai bangsa yg mau gak mau harus menjadi kesatuan karena tuntutan keadaan, zaman dan Tuhan yg mengajarkan manusia utk berdamai bersatu bersaudara di dlm kebaikan dan cinta kasih. OIeh sebab itu romusha tidak sia-sia pengabdian mereka. mereka mendapatkan pahala menopang kehidupan seluruh bangsa indonesia sampai akhir zaman...
BalasHapusternyata kacung kampret toh...
BalasHapus